Uji Emisi Gas Buang Toyota Starlet

Hasil Uji Emisi Toyota Starlet Aplikasi Bubble Water Injection
Berkaitan dengan mendukung Propinsi DKI Jakarta dalam pemulihan kualitas mutu udara, Polda Metro Jaya melakukan Uji Emisi Gas Buang Kendaraan dalam setiap prosedur perolehan STNK. Oleh karena itu tidak ada salahnya para starleters melakukan uji emisi untuk menekan polusi udara dalam program peduli langit biru.

Uji Emisi Men-cerminkan Kesempurnaan Pembakaran Mesin
Mesin yang baik pembakarannya adalah mesin yang memenuhi batas ambang emisi gas buang, bila sebuah mesin mobil memenuhi dan lolos uji emisi itu berarti kondisi mesin dalam keadaan prima dan konsumsi bbm tentu lebih irit.




Uji emisi toyota starlet milik starno dilakukan untuk mendapatkan data akurat efek dari penggunaan Bubble Water Injection yang ternyata memang bisa menekan polusi gas buang secara drastis, sekaligus membuat konsumsi bensin lebih irit.


Syarat Lolos Uji Emisi :
- Karbon monoksida (CO) tidak boleh melebihi dari 3.00%
- Hidrokarbon (HC) tidak boleh melebihi dari 700ppm



Kondisi Bubble Water Injection OFF :
- CO = 2.90%
- HC = 680.00 ppm

Kondisi Bubble Water Injection ON :
- CO = 2.50%
- HC = 517.00 ppm

Bila sebuah mesin mobil lolos uji emisi maka akan mendapatkan buku sertifikat lolos uji emisi, yang dibutuhkan untuk memperpanjang STNK di propinsi DKI.



Hasil data print out ini dijadikan parameter lolos uji emisi.

Emisi Karbon Monoksida (CO)

Gas karbonmonoksida adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung bereaksi dengan unsur lain. Karbon monoksida, dapat diubah dengan mudah menjadi CO2 dengan bantuan sedikit oksigen dan panas. Saat mesin bekerja dengan AFR yang tepat, emisi CO pada ujung knalpot berkisar 0.5% sampai 1% untuk mesin yang dilengkapi dengan sistem injeksi atau sekitar 2.5% untuk mesin yang masih menggunakan karburator. Dengan bantuan air injection system atau CC, maka CO dapat dibuat serendah mungkin mendekati 0%.

Apabila AFR sedikit saja lebih kaya dari angka idealnya (AFR ideal = lambda = 1.00) maka emisi CO akan naik secara drastis. Jadi tingginya angka CO menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya dan ini bisa disebabkan antara lain karena masalah di fuel injection system seperti fuel pressure yang terlalu tinggi, sensor suhu mesin yang tidak normal, air filter yang kotor, PCV system yang tidak normal, karburator yang kotor atau setelannya yang tidak tepat.

Emisi Karbon Dioksida (CO2)
Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka emisi CO2 akan turun secara drastis. Apabila CO2 berada dibawah 12%, maka kita harus melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus.

Perlu diingat bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC. Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe.

Oksigen (O2)
Konsentrasi dari oksigen di gas buang kendaraan berbanding terbalik dengan konsentrasi CO2. Untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempurna, maka kadar oksigen yang masuk ke ruang bakar harus mencukupi untuk setiap molekul hidrokarbon.

Dalam ruang bakar, campuran udara dan bensin dapat terbakar dengan sempurna apabila bentuk dari ruang bakar tersebut melengkung secara sempurna. Kondisi ini memungkinkan molekul bensin dan molekul udara dapat dengan mudah bertemu untuk bereaksi dengan sempurna pada proses pembakaran. Tapi sayangnya, ruang bakar tidak dapat sempurna melengkung dan halus sehingga memungkinkan molekul bensin seolah-olah bersembunyi dari molekul oksigen dan menyebabkan proses pembakaran tidak terjadi dengan sempurna.

Untuk mengurangi emisi HC, maka dibutuhkan sedikit tambahan udara atau oksigen untuk memastikan bahwa semua molekul bensin dapat “bertemu” dengan molekul oksigen untuk bereaksi dengan sempurna. Ini berarti AFR 14,7:1 (lambda = 1.00) sebenarnya merupakan kondisi yang sedikit kurus. Inilah yang menyebabkan oksigen dalam gas buang akan berkisar antara 0.5% sampai 1%. Pada mesin yang dilengkapi dengan CC, kondisi ini akan baik karena membantu fungsi CC untuk mengubah CO dan HC menjadi CO2.

Lambda
Lambda = 1, didefinisikan pada saat terjadi kondisi Stoichiometric (benar secara kimia) ... yang secara umum untuk BBM premium atau pertamax atau pertamax plus adalah 14.7 : 1 sebagai referenci/acuan lambda = 1.

Lambda < lambda =" 0.8" adalah =" 0.8*14.7" lambda =" 0.8."> 1 adalah kebalikan dari diatas ... yaitu kondisi LEAN (Kurus) yang mana perbandingan Udara dan BBM melebihi kondisi stoich ... misalnya 17 : 1 ... AFR 17:1 ini adalah lambda = 17/14.7 = 1.16.

Sumber seluruh artikel mengenai emisi gas buang diambil dari : http://www.saft7.com
Untuk mengetahui lebih banyak cara meng-analisa emisi gas buang mesin mobil silahkan saja berkunjung ke website http://saft7.com/?p=102


Salam Starleters,
Starno72,
021-32929696

Komentar