Kompresi Mesin Toyota Starlet


Kompresi Mesin Starlet 2E/1E ( Rahasia Mesin Kencang Starlet )

Salah satu faktor yang menentukan sebuah mesin starlet sehat adalah kompresi mesin. Kompresi mesin adalah satuan tekanan dalam kg/cm2 atau lb/inch, kompresi mesin terjadi karena terjadi langkah gerak piston TMA (Titik Mati Atas) yang dibutuhkan untuk campuran bahan bakar bensin dan udara yang memiliki tekanan tertentu, sehingga menghasilkan ledakan / combustion, sehingga mendorong piston/torak kebawah, dan pergerakan ini akan menghasilkan tenaga.

Secara analogi bisa digambarkan bahwa kompresi dibutuhkan untuk menghasilkan ledakan atas pembakaran campuran bahan bakar yang cukup yang bisa menghasilkan tenaga. Semakin tinggi kompresi maka akan semakin tinggi ledakan, dan akan semakin besar tenaga dorong torak/piston yang selanjutnya akan menghasilkan torsi yang kuat.

Akan tetapi kompresi mesin tidak bisa dibuat terlalu tinggi sekali, karena semakin tinggi kompresi mesin akan membutuhkan bahan bakar dengan nilai oktan yang semakin tinggi pula. Tapi sebaliknya kompresi mesin yang terlalu rendah akan menyebabkan tenaga mesin berkurang, mesin sulit dihidupkan dan boros bahan bakar.

Pada mesin turbo, kompresi di ruang bakar termasuk "low compression" atau kompresi rendah, ini dimaksudkan pada saat turbo bekerja kompresi mesin akan meningkat tajam begitu pun tenaga yang dihasilkannya.

Kali ini starno akan bahas berapa kompresi mesin ideal buat toyota starlet mesin 2E/1E, dengan harapan ini bisa dijadikan bahan ilmu pengetahuan bagi penggemar toyota starlet.

Seperti pada gambar dibawah ini, kompresi standard toyota starlet tertera 13.okg/cm2 atau 184psi, dan nilai toleransi perbedaan kompresi pada masin-masing slinder tidak boleh melebihi 1,0kg/cm2 atau 14psi.


Foto diatas diambil dari buku manual servis toyota starlet 2E/1E, Toyota Astra Motor. Dan alat yang digunakan adalah pengukur kompresi mesin merk "sanpet" buatan taiwan.

Test Pengukuran Kompresi
Untuk melakukan pengukuran kompresi, mesin harus dipanaskan dulu hingga suhu kerja sekitar 90 derajat celcius. Setelah mesin mencapai temperatur kerja, bukalah semua busi dan bisa mulai pengukuran.

Slinder Nomer 1
Hasil pengukuran kompresi slinder nomer 1 adalah sebesar 13,5kg/cm2


Slinder Nomer 2
Hasli pengukuran kompresi slinder nomer 2 adalah sebesar 13,7kg/cm2


Slinder Nomer 3
Hasli pengukuran kompresi slinder nomer 3 adalah sebesar 13,5kg/cm2


Slinder Nomer 4
Hasli pengukuran kompresi slinder nomer 4 adalah sebesar 13,0kg/cm2


Tabel Hasil Pengukuran :

Slinder 1 = 13,5kg/cm2
Slinder 2 = 13,7kg/cm2
Slinder 3 = 13,5kg/cm2
Slinder 4 = 13,0kg/cm2

Seperti yang sudah disebutkan diatas, perbedaan hasil pengukuran kompresi pada tiap slinder tidak boleh melebihi 1 kg/cm2, dan hasil pengukuran diatas menunjukan bahwa mesin dalam kondisi sehat.

Bila terjadi perbedaan melebihi toleransi seperti yang disebutkan biasanya mesin berputar pincang, getaran mesin berlebihan, tenaga kurang. Untuk situasi tidak lebih dari 1,5kg mesin bisa diatasi dengan top overhaul atau turun setengah, untuk diganti sil klep dan dilakukan skir klep yang bertujuan mengembalikan kompresi yang bocor.

Bila mesin mengalami perbedaan kompresi atau lebih dari 3kg/cm2 maka disimpulkan mesin mengalami kebocoran kompresi, mesin perlu di overhaul total untuk diganti ring piston dan piston untuk mengembalikan kompresi seperti yang diharapkan.

Penyebab Kompresi Mesin Menurun
- Kesalahan penyetelan klep
- Kesalahan pemasangan timing belt
- Kondisi klep dan mangkoknya aus dan banyak kerak pada bibir klep
- Batang klep bengkok
- Ring Piston Aus/Patah
- Piston Kocak atau Oblak
- Dinding Slinder Baret/Tergores
- Terjadi kebocoran pada paking head
- Kepala Slinder ( Cylinder Head ) melengkung karena overheating
- Kualitas oli mesin rendah

Knalpot Ngebul
Salah satu indikasi awal adanya kebocoran kompresi mesin adalah ditandai dengan gas pembuangan yang terlihat ngebul bisa berwarna putih atau berwarna biru dan bau seperti oli terbakar, pada mesin seperti ini biasanya stasioner mesin tidak rata, tenaga kurang, bensin boros, dan sudah satnya untuk dilakukan overhaul.


Rasio Kopresi vs Kompresi Mesin
Rasio kompresi berbanding lurus dengan kompresi mesin, artinya semakin tinggi rasio kompresi akan menghasilkan kompresi mesin yang tinggi pula. Rasio Kompresi biasanya digunakan persatuan bagian dan kompresi mesin digunakan satuan kg/cm2. Mesin Toyota Starlet memilik rasio kompresi mesin sebesar 1:9,5 dan besarnya kompresi mesin 13,0kg/cm2. Dengan spesifikasi tersebut, toyota starlet memang sangat layak menggunakan bensin premium dengan nilai oktan 88.



Rasio kompresi 1:9,5 berarti volume sebuah ruang 9,5 unit volume akan menjadi 1 unit volume saat langkah kompresi. Karena bagian yang terkompresi menjadi lebih kecil maka timbulah satuan kompresi mesin 13,0kg/cm2.
Menurut beberapa sumber, rasio kompresi kendaraan yang beredar di indonesia antara 1:8 hingga 1:12, rasio kompresi mesin diatas 1:9,5 tidak layak mengunakan premium. Itulah sebabnya mengapa mesin injeksi multivalve mobil modern yang canggih harus menggunakan pertamax karena rasio kompresi mesin sudah mencapai 1:11 sedangkan rasio kompresi 1:12 biasanya dihasilkan oleh mesin yang dilengkapi turbocharge, oleh sebab itu juga mengapa toyota starlet 4EFTE kurang layak menggunakan premium, karena mesin 4EFTE saat bekerja memiliki rasio kompresi bervariasi antara 8-12. bila memaksa menggunakan premium akan loyo diputaran bawah dan gelitik diputaran atas, bila dipaksa terus menerus kepala piston akan bolong.

Semakin tinggi rasio kompresi mesin akan membutuhkan semakin tinggi nilai oktan. Semakin tinggi nilai oktan bensin, semakin sulit bensin terbakar (dengan sendirinya tanpa pengapian dari busi)

Demikian artikel ini dibuat sebagai penambah wawasan mengenali mesin starlet lebih jauh, semoga bisa diambil manfaatnya.


Salam Starno72
021-32929696

Ready Stock Bubble Water Injection Rp.350rb. Gratis Ongkir/Pasang